Polisi Investigasi Situs Football Leaks karena Pemerasan

VIVA.co.id – Kepolisian Portugal menyelidiki situs Football Leaks, yang membocorkan dokumen transfer bintang Real Madrid dan Manchester United, Gareth Bale dan Anthony Martial. Mereka dituding mengirimkan ancaman, menuntut pembayaran untuk tidak menyebarkan dokumen. Dilansir dari Mirror pada Minggu, 24 Januari 2016, dokumen transfer Bale dan Martial bocor ke publik awal pekan ini. Namun sebelumnya, tim di balik situs Football Leaks, disebut berusaha memeras salah satu agensi olahraga besar, dengan nilai sekitar satu juta euro. Mereka mengklaim berjuang untuk transparansi di dunia sepakbola, saat membocorkan nilai transfer Bale. Pujian pun datang dari FIFA atas apa yang mereka lakukan. Namun belakangan terkuak adanya surat elektronik yang dikirimkan tim Football Leaks pada Doyen Sports. Doyen Sports adalah agensi yang terkena dampak dari bocornya dokumen. Mereka berada di balik transfer bernilai jutaan poundsterling, Marcos Rojo ke Manchester United dan Eliaquim Mangala ke Manchester City. Orang yang mengirimkan ancaman, diduga menggunakan nama palsu Artem Lovuzov. “Bocoran ini lebih besar dari yang Anda bayangkan. Tapi dengan donasi yang murah hati, Anda bisa yakin semua informasi yang saya miliki akan dihancurkan,” tulis Artem Lovuzov, yang mendaftarkan alamat surat elektroniknya di Kazakhstan, pada CEO Doyen Sports Nelio Lucas, Oktober 2015. Saat ditanya apa yang dimaksudnya dengan murah hati, Lovuzov membalas dengan menyebut 500.000 sampai satu juta euro, akan menjadi nilai yang baik. Doyen Sports tidak membalas lagi surel itu dan Lovuzov mengirimkan surel lainnya berisi ancaman. “Dua hari sudah berlalu, dan pengacara saya mengatakan dia belum dikontak oleh Anda atau pengacara Anda. Seperti saya katakan pada Anda, saya orang yang memegang kata-kata. Saya memberi Anda waktu hingga Selasa pukul 16.00 untuk menghubungi pengacara saya,” tulisnya. Jika Lucas tidak memenuhi ancaman, Lovuzov mengancam akan mempublikasikan dokumen transfer yang dimilikinya. Football Leaks belum terdengar hingga September 2015, saat mereka menguak perjanjian tiga pihak antara FC Twente dan Doyen Sports untuk penjualan hak atas pemain mereka. Ketika itu Football Leaks membocorkan transfer Dusan Tadic dari FC Twente ke Southampton, yang berbuntut investigasi oleh asosiasi sepakbola Belanda. Proses transfer Tadic dicurigai melanggar regulasi, dan bocornya dokumen mengakibatkan mundurnya CEO FC Twente Aldo van der Laan. Mereka yang berada di balik Football Leaks, diyakini adalah orang-orang Portugal, namun kini menggunakan server Rusia. Itu mereka lakukan, setelah dua kali terjadi penutupan. Situs versi terbaru muncul dengan server Rusia, dan telah menjadi salah satu situs dengan pembaca terbesar. Football Leaks menjadi populer, setelah mengungkap beberapa transfer bernilai fantastis. Termasuk pembelian Eliaquim Mangala ke Manchester City, Anthony Martial ke Manchester United, serta Gareth Bale ke Real Madrid yang membuat malu ketiga klub raksasa Eropa itu. Pernyataan resmi dari situs Football Leaks menyatakan bantahan bahwa mereka melakukan kontak dengan Doyen Sports. Sebagian netizen menduga, tuduhan terhadap Football Leaks adalah bagian dari rekayasa untuk membungkam mereka, seperti pernah terjadi atas pendiri Wikileaks Julian Assange. Julian Assange menjadi perhatian dunia, setelah mengungkapkan dokumen-dokumen rahasia negara dan perusahaan raksasa dunia, melalui situs Wikileaks pada Desember 2006. Namun belakangan muncul rekayasa hukum terhadap Assange, bahwa dia melakukan pemerkosaan dan kini menjadi buronan. (ase)

Sumber: VivaNews